Selasa, 08 Desember 2009

AL-Qur'an


Pernahkah kita membaca Al-Qur'an tetapi jiwa kita justru merasa gersang?
Atau kita menghabiskan halaman-halamannya sementara ruh kita tetap dilanda kekeringan?
Atau bahkan kita merasa begitu berat dan terpaksa membacanya karena hanya mengejar target?

Jika itu terjadi, mari beristighfar kepada Allah SWT.


Al-Qur'an diturunkan bukan untuk menyusahkan kita, termasuk dalam membacanya.

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ

"Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah" (QS. Thaahaa : 2).

Lalu mengapa hati kita demikian membatu untuk bisa tersentuh ayat-ayat-Nya?

Hati itu seharusnya melembut saat membacanya, lalu ia mengajak mata untuk meneteskan air matanya.

Al-Qur'an itu indah. Keindahannya bisa dirasakan oleh fitrah manusia meskipun tidak tahu artinya. Inilah penjelasan mengapa seseorang bisa menangis saat membaca Al-Qur'an dengan tartil dan penuh kekshuyu'an. Ini pula alasan seseorang yang masuk Islam dan ditanya;
mengapa?
Lalu Ia menjawab: "Kitab sucinya umat Islam, Al-Qur'an.

Ayat-ayatnya bisa dirasakan oleh hati meskipun belum dimengerti terjemahnya."

Terlebih saat Al-Qur'an dipahami artinya. Ia begitu indah, memukau jiwa. Ia memang kitab yang memiliki daya magnetis, di samping kebenaran mutlak yang dikandungnya. Inilah yang membuat Abu Jahal dan beberapa kawannya diam-diam menguping Rasulullah Saw membaca Al-Qur'an.

Al-Qur'an juga banyak memaparkan ayat-Nya dengan gaya cerita. Keindahan Al-Qur'an dalam bercerita demikian luar biasa inilah yang kemudian menginspirasi Sayyid Qutub untuk menulisnya dalam Tafshiir Al-Fanny fil Qur'an.

Kita bisa mentadabburi Al-Qur'an jika kita tahu artinya. Agar kita memahami isinya, para ulama' telah menyusun banyak tafsir untuk kita baca. Saat kita memahami maksudnya, saat itulah kita bisa menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi kita.

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

"Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa" (QS. Al-Baqarah : 2)

Dan inilah yang dirindukan para sahabat Nabi. Mereka membaca Al-Qur'an untuk mengaplikasikannya.

Saat kita merasakan nikmatnya membaca Al-Qur'an dan merindukannya untuk kita aplikasikan,saat itulah iman kita akan meninggi.

وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا

"...dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya)" (QS. Al-Anfal : 2)


Semoga kita termasuk orang-orang yang ada di dalamnya.Amin.


----------------------------------------------------------------------------------------
Catatan:
Tadabbur adalah perenungan yang menyeluruh untuk mengetahui maksud dan makna dari suatu ungkapan secara mendalam.

Kamis, 29 Oktober 2009

Keutamaan Do’a & Dzikir yang Mungkin Terlupakan


KEUTAMAAN DO’A.


1. Berdo’a adalah perintah Allah ta’ala, sesuai dengan firman-Nya: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan do’amu.” (QS. Al-Mu’min: 60)

2. Mengabulkan orang yang berdo’a kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman: “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apa bila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

3. Do’a adalah Ibadah. Rasulullah saw. bersabda: “Do’a itu adalah ibadah.” (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah & Ahmad)

4. Allah sangat memuliakan do’a. Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada sesuatu pun yang lebih dimuliakan Allah ta’ala selain do’a.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah & Ahmad)

5. Dapat mengubah qadha’. Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada yang bisa menolak qadha’ kecuali do’a, dan tidak menambah usia kecuali perbuatan baik.” (HR. At-Tirmidzi).


KEUTAMAAN DZIKIR


1. Dzikir Adalah Perintah Allah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dhikir yang sebanyak-banyak nya.” (QS. Al-Ahzaab: 41)

2. Orang yang berdzikir Dijanjikan Surga
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzaab 35)

3. Dengan Mengingat Allah, Allah pun ingat Kepada Kita
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Maka ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku pun ingat kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan jaganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (QS Al-Baqarah: 152)

4. Allah Bersama orang yang Berdzikir kepada-Nya
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam hadist qudsi,
“Aku bersama sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya jika dia menyebut-Ku. Jika dia menyebut-Ku dalam dirinya, aku pun menyebutnya dalam Diri-Ku. Dan apabila dia menyebut-Ku di hadapan orang banyak, Aku pun menyebutnya di hadapan orang-orang yang lebik baik dari mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

5. Orang yang Berdzikir Dikelilingi Malaikat dan Diliputi Rahmat
Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika ada suatu kaum yang duduk untuk berdzikir kepada Allah ‘Azza wa jalla, niscaya para malaikat akan mengelilingi mereka, mereka pun diliputi rahmat, dan diturunkan ketenangan jiwa untuk mereka. Dan Allah pun menyebut mereka kepada orang-orang yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad)


KEUTAMAAN ISTIGHFAR


1. Istighfar (Mohon Ampunan) Adalah Perintah Allah
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya.” (QS Huud: 90)

2. Beristighfar Adalah Sunnah Nabi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Demi Allah, sesungguhnya aku ini beristghfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dan Ahmad)

3. Mencegah Azhab Allah
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengahzab mereka, sedang mereka senantiasa beristighfar .” (QS. Al-Anfaal: 33)

4. Istighfar Mendatangkan Rezeki Tak Terduga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang rutin membaca istighfar, Allah akan memberikan solusi pada setiap kesulitannya, dan penyelesaian bagi setiap permasalahannya. Dan Dia akan memberikan rezeki dari jalan yang tidak terduga.” (Abu Dawud, An-Nasai, Ibnu Majah, al-Hakim, dan Al-Baihaqi)


KEUTAMAAN MEMBACA SHALAWAT


1. Membaca Shalawat untuk Nabi Adalah Perintah Allah
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzaab: 56)

2. Dengan Shalawat Dosa Diampuni dan Derajat Diangkat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat sepuluh kali untuknya, sepuluh dosanya akan dihapus, dan dia diangkat sepuluh derajat.” (HR.An-Nasai dan Ahmad)

3. Orang yang Banyak Bershalawat Paling Berhak Mendapat Syafaat Nabi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Orang yang paling utama bagiku nanti pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi)


KEUTAMAAN MEMBACA TASBIH


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ada Dua kalimat yang ringan di lisan tapi berat di mizan, dan disukai oleh Yang Maha Penyayang: Subhaanallaahil ‘azhiimi subhaanallaahi wa bihamdih (Maha Suci Allah yang Mahabesar, Mahasuci Allah dengan memuji-Nya).” (HR. Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang membaca Subhaanallaahi wa bihamdih (Mahasuci Allah dan dengan memuji-nya) dalam sehari sebanyak seratus kali, dosa-dosanya akan dihapus sekalipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Malik)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Perkataan yang paling dicintai Allah ada empat; Subhaanallaah, wal hamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar.” (HR Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad)


KEUTAMAAN MEMBACA TAHLIL DAN TAHMID


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Dzikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallaah, dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillaah.” (HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)


KEUTAMAAN MEMBACA HAWQALAH


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Katakanlah ; Laa haula walaa quwwata illa billaah (tiada daya dan kekuatan kecuali karena Allah), karena sesungguhnya ia adalah perbendaharaan dari kekayaan surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Qais binh Sa’ad bin Ubadah Radhiyallahu ‘Anhuma,

“Maukah kamu saya kasih tahu satu pintu dari pintu-pintu surga?” Qais menjawab, “Ya, mau.” Nabi bersabda, “(kalimat) Laa haula walaa quwwata ilaa billaah.” (HR. Tirmidzi)

Shafwan bin Sulaim rahimahullah (w. 132 H) berkata, “Tidaklah malaikat beranjak meninggalkan bumi sehingga ia membaca Laa haula walaa quwwata illaa billaah.”



BERDOA DENGAN ASMAUL HUSNA


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Hanya milik Allah-lah asmaul husna (nama-nama yang baik), maka berdoalah kepada-Nya dengan asmaul husna itu.” (QS. Al-A’raaf: 180)

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,

“Katakanlah, ‘serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai asmaul husna (nama-nama yang terbaik).” (QS.al Israa’: 110)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghitungnya ia akan masuk surga. Dia adalah ganjil (Maha Esa) dan menyukai ganjil.” (HR. Al-Bukharidan Muslim)

Buraidah bin Al-Hushaib Radhiyallahu ‘Anhu menceritakan, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mendengar seorang laki-laki berkata dalam doanya,

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kapada-Mu dengan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Tunggal, Yang Maha Dibutuhkan, Yang tidak beranak lagi tidak diperanak dan tidak ada yang setara dengan-Nya.”

Maka, Nabi pun berkata,

“Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh dia telah meminta kepada Allah dengan ismullooh al a’zhom (nama Allah yang paling agung), dimana jika orang berdoa kepada-Nya dengan nama itu, pasti dikabulkan. Dan jika Dia diminta dengan nama itu niscaya Dia akan memberi.” (HR Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban)

99 Asma’ul Husna

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ Sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghitungnya pasti masuk surga.

(HR At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim)

InsyaAllah bermanfaat…

( from : post of 3 Ayat Al-Quran on Facebook)

Sabar

Mencermati kembali dalil – dalil bulan ini, memori saya terantuk dengan sebuah kalimat yang nandes. Kalimat yang terkait erat dengan pengertian sabar dan istirja. Insya Allah sering didengar, sering dinasehatkan. Begini kira – kiranya bunyi kalimat itu,”Kalau terkena mushibah harus sabar dengan cara istirja. Nggak boleh marah – marah dulu baru kemudian istirja’. Itu namanya tidak sabar.” Kemudian seorang penasehat menegaskan, “Yang penting istirja’ dulu. Setelah istirja marah – marah silahkan.” Benarkah demikian pengertian dan praktek sabar dengan istirja’ ini?

Di Hadits Shohih Bukhory disebutkan sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,”Ash – shobru ‘inda shodmatil uulaa – Adapun sabar itu di sisi ketukan/kejadian yang pertama.” Dengan dasar inilah muncul nasehat seperti di atas. Ketika tertimpa mushibah yang pertama dilakukan adalah istirja. Ketika sudah mengucapkan istirja – Inna lillaahi …dst – maka sudah dikatakan sabar. Sebab kesabaran sudah muncul pada respon pertama terhadap kejadian. Jadi sabar itu gampang ketika kena mushibah terus istirja itu sudah kategori sabar. Singkat, cepat dan mudah, sehingga diembel – embeli; mau marah habis itu, mau diam membisu setelahnya, silahkan. Pengertian yang dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Saya masih ingat pertama kali mengkaji dalil di atas tahun 90-an yang disampaikan oleh Mas Parjono, mubaligh di Purwodadi dulu, ya seperti itu. Tetap, tidak berubah. Sampai kemudian ada sebuah pertanyaan yang menyadarkan saya untuk ‘meredefinisi’ lagi kalimat itu. Seorang teman yang bekerja dengan sesama mukmin, mengeluh,”Mas, Bos saya di kantor kok marah – marah terus, kalau kita melakukan kesalahan. Padahal kan sudah kita jelaskan kalau itu tidak disengaja. Mushibah. Dan sudah diingatkan untuk sabar.” Jawabnya selalu, “Saya sudah istirja, sekarang tinggal marahnya.” Masya Allah…! Kasihan.

Terus terang saya prihatin dengan situasi teman tersebut. Dan karenanya saya mawas diri - instrospeksi, mungkin ada yang salah dengan nasehat tentang kesabaran ini. Menurut saya, nasehat seperti di atas itu benar jika dimengerti dan dimaksudkan bahwa proses sabar itu dimulai dari pertama kali kejadian. Bukan berhenti pada kejadian awalnya saja. Sebab kesabaran adalah sebuah proses. Terus sampai kapan? Hadits inilah jawabnya. Dari Anas, dari Nabi SAW, bersabda, “Sesungguhnya besarnya balasan beserta besarnya cobaan. Dan sesungguhnya Allah ketika senang kepada suatu qaum, maka Allah mencoba mereka. Maka barangsiapa yang senang/ridho maka baginya ridho (dari Allah) dan barangsiapa yang murka maka baginya juga murka (dari Allah).” (Rowahu at-Tirmidzi Fii Kitabi az-Zuhdi)

Proses sabar itu terus berlanjut dari semenjak mengucap istrija pas pertama kali kejadian, sampai kita bisa sadar. Sadar kalau dengan mushibah itu Allah menunjukkan cintanya kepada kita. Dengan cobaan mushibah itu berarti Allah akan mengganti/membalas sesuatu yang lebih baik yang kita tidak tahu. Yang akhirnya bisa senang dengan apa – apa yang menimpa kita. Bisa memahami bahwa semua itu skenarioNya. Paham dengan kalimat istirja yang kita ucapkan pertama kali. Bahwa kita ini punya Allah dan semua ini akan kembali kepadaNya. Atau sebaliknya kita marah – marah dengan semua itu sehingga Allah pun murka karenanya.

Kenapa saya menyandarkan pada hadits ini? Jawabnya adalah agar tidak bertentangan dengan hadits yang menyatakan bahwa –Innamal a’malu bikhowatimiha – Sesungguhnya jadinya amal itu pada akhirnya. Jadi kalau kita sudah istirja pas kejadian yang pertama, habis istirja terus marah – marah, maka itu tidak dibenarkan. Berarti tidak ridho. Dan bisa dikatakan tidak sabar. Nah, agar tidakk bertentangan antara satu dengan yang lainnya, maka nasehat seperti yang di atas harus dikoreksi. Adapun koreksinya menjadi begini. Yang dikatakan sabar ketika mendapat mushibah itu, bisa istirja pas kejadian awal, kemudian menjaga sikap dan perilakunya menuju keridhoanNya, sampai betul – betul bisa memahami bahwa semua itu atas kehendak Allah dan semuanya akan kembali kepadanya. Jadi tidak ada marah – marah lagi di dalamnya. Habis istirja tidak boleh lagi marah – marah harus tetap sabar dan menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin, pikiran tenang dan hati yang bening. Tidak larut dalam kesedihan dan tidak mengumbar amarah badan.

Setelah saya jelaskan begini, si teman jadi bingung, katanya, “Tapi walaupun dia marah – marah terus, tapi kok malah tambah kaya ya?”

Sambil lau saya katakan, “Kalau itu dalilnya lain lagi. Kalau sampeyan pengin tahu kapan – kapan saja datang ke rumah, nanti saya jelaskan. Sekarang kita baru bicara masalah sabar Mas.”

“Ooo,,” gumamnya lirih.

Semoga semua ini menambah kepahamannya dan kepahaman kita semua. Amin.

oleh: Ust. Faizunal

(from : http://www.ldii.or.id/content/view/333/1/lang,id/)

Selasa, 27 Oktober 2009

Dalil vs Dalih


Kitab suci bisa digunakan sebagai dalil, bisa juga digunakan sebagai dalih.

Apa bedanya?

Kalau dijadikan dalil, artinya aturan-aturan di dalamnya kita gunakan sebagai rujukan, sebagai pegangan. Ringan kita laksanakan, berat pun kita laksanakan.

Sebaliknya kalau dijadikan dalih, maka aturan di dalamnya hanya kita jadikan rujukan saat sesuai dengan kemauan kita. Artinya, yang ringan kita jalankan, yang susah kita abaikan.

Itulah beda dalil dengan dalih. Beda satu huruf yang berarti perbedaan bumi langit.

Alasan-alasan yang kita gunakan sehari-hari ternyata juga ada yang dalil, ada yang hanya dalih. Kapan kita mengetahui suatu alasan itu dalil, dan kapan dalih?

Anda akan tahu bahwa sesuatu itu dalil (prinsip hidup) ketika Anda menjalaninya secara konsisten. Seringkali dalil akan berbenturan dengan keinginan nafsu kita. Misalnya, teman-teman kita pada bagi-bagi uang sisa proyek tanpa aturan pembagian yang jelas. Kalau Anda punya dalil bahwa itu haram, dan Anda mengimaninya, mungkin Anda menolak untuk ikut mendapatkan pembagian. Tentu saja ada dilema yang serius akan Anda hadapi. Yang paling sulit adalah menghadapi sikap tak suka dari kalangan kolega sendiri. Nah, kalau bisa bertahan terhadap situasi sulit itu, berarti prinsip tersebut adalah dalil bagi yang bersangkutan. Sebaliknya, jika kemudian dia mencari-cari aturan lain yang bisa membenarkan perilaku yang hati nurani kita menganggap salah, maka jelaslah aturan itu kita gunakan sebagai dalih.

Jadi, ketika suatu aturan kita gunakan sebagai referensi, maka ia digunakan sebagai dalil. Sedangkan ketika suatu aturan digunakan sebagai alibi pembenaran, maka dia menjadi dalih. Materi aturan itu sama saja, motivasi penggunaannya yang berbeda.

Cirinya sederhana: dalil mendahului sikap, sedangkan dalih mengikuti sikap.

Mari kita ambil contoh populer, menikah lagi. Kalau ayat kitab suci dijadikan dalil, maka bisa terjadi seseorang mengimani pentingnya menikah lagi (mungkin untuk menyelamatkan kehormatan janda, menyantuni yatim, memberikan pengajaran jalan mulia di tengah kemaksiatan perzinahan, dsb) mendahului pernikahan itu sendiri. Jadi, dia menikah atas dasar agama untuk menyelesaikan persoalan pelik di masyarakat. Mungkin dia pribadi merasa berat dengan tanggung jawab pernikahan baru (dan memang tanggung jawab berkeluarga itu cukup berat), hal tersebut tidak nyaman dilakukan (bukankah lebih enak berzina diam-diam? misalnya), tapi lalu dia lakukan dengan niat karena Allah. Nah, ini artinya rujukan tersebut digunakan sebagai dalil. Tapi sebaliknya, bila karena dorongan nafsu kemudian seseorang menikah lagi, dan menunjukkan ciri-ciri kurangnya tanggung jawab dalam membina keluarga (baik keluarga yang lama maupun yang baru), maka rujukan yang dipakai sebenarnya dijadikan dalih belaka.

Hal yang sama juga terjadi pada alasan-alasan kita sehari-hari. Misalnya, alasan datang terlambat, pekerjaan tak selesai tepat waktu, membatasi pengeluaran, boros pengeluaran, dll. Ada sebagian alasan tersebut yang bersifat dalil/berdasarkan prinsip (misalnya boros untuk keperluan yang penting), atau sekedar dalih/berdasarkan pembenaran (misalnya boros karena keinginan sesaat).

Masak sih kita tak boleh berdalih? Ya, boleh-boleh saja. Yang penting kita itu jujur dengan diri sendiri, kapan kita itu berdalil atau berdalih. Kalau sedang cari-cari alasan, ya kita akui saja kalau kita sedang berdalih, bukan sedang berdalil. Sedangkan kalau kita berdalil, maka kita harus sampaikan dengan jujur dan tegas, walaupun pahit akibatnya.

Ngomong-ngomong apakah hasil kerja Anda sering hanya secukupnya saja? Itu dalil atau dalih ya?

Oleh Khairul Ummam

picture from : http://siito16.deviantart.com/art/angel-vs-demon-125598511

VIVAnews - Facebook merupakan situs jejaring sosial terlaris di Indonesia. Bahkan menurut data Alexa, Facebook merupakan situs yang paling banyak dikunjungi oleh pengguna internet di tanah air, di atas Google, Yahoo, Blogger, ataupun YouTube.

Tingginya popularitas Facebook ternyata telah dimanfaatkan oleh penjahat dunia maya, atau istilah kerennya cyber criminal. Mereka telah membangun situs Facebook versi Indonesia yang bertujuan untuk penipuan (phising). Pengguna yang terjebak akan secara sengaja menyerahkan informasi username dan password akun Facebook mereka ke kriminal tersebut.

“Jika dilihat sekilas, tampilan situs Facebook gadungan ini memang mirip aslinya, termasuk ketersediaan sarana registrasi bagi pengguna baru. Begitu pun dengan icon, gambar, judul halaman dan elemen lain yang lazim dijumpai pada laman utama Facebook ketika baru dibuka,” kata Brama Setyadi, seorang praktisi teknologi pada VIVAnews, 26 Oktober 2009.

“Satu-satunya yang membuat laman ini berbeda adalah alamatnya, yakni http://facabook.co.tv/indonesia,” ucap Brama yang awalnya mendapatkan pesan phising tersebut di inboks akun Facebook-nya.

Pada laman Facebook asli, Brama menyebutkan, data login yang dimasukkan pengguna akan dikirim menggunakan metode POST ke file login.php di alamat ‘https://login.facebook.com’.

“Sekadar info, HTTPS (Hypertext Transfer Protocol Secure) adalah protokol yang digunakan untuk mengamankan jalur pengiriman data dengan memanfaatkan enkripsi,” kata Brama. “Sementara Facebook palsu mengirimkan data login ke file src-login.php di alamat http://facabook.co.tv,” ucapnya.

“Dari sini sebenarnya dapat diketahui bahwa sebenarnya si pembuat laman sama sekali tidak mengirimkan data untuk keperluan otentikasi, melainkan hanya merekam data login ke dalam database miliknya,” ucap Brama.

Menurut laporan beberapa korban, informasi tentang Facebook palsu ini didapat lewat fasilitas message Facebook, meskipun si phiser tidak masuk ke dalam daftar teman. Isi beritanya kurang lebih mengharuskan si calon korban untuk melakukan login ke facebook dengan segera karena sistem administrasi Facebook sedang dalam tahap seleksi pengguna aktif. Sembari melampirkan alamat palsu di atas, phiser juga menyuruh meneruskan pesan yang dibuatnya kepada 15 pengguna Facebook lain.

Lalu apa yang terjadi jika pengguna memasukkan informasi kredensial ke laman ini? Setelah merekam data login si pembuat akan langsung mengalihkan laman ke alamat login Facebook yang asli. Seakan-akan pengguna telah salah atau belum memasukkan informasi login.

“Anda yang telah terlanjur memasukkan informasi login di situs tersebut, ada baiknya segera mengubah password Facebook yang Anda punya,” ucap Brama.

from : http://id.news.yahoo.com/viva/20091026/ttc-awas-facebook-palsu-hadir-di-indones-078ed6a.html

VIVAnews - Facebook merupakan situs jejaring sosial terlaris di Indonesia. Bahkan menurut data Alexa, Facebook merupakan situs yang paling banyak dikunjungi oleh pengguna internet di tanah air, di atas Google, Yahoo, Blogger, ataupun YouTube.

Tingginya popularitas Facebook ternyata telah dimanfaatkan oleh penjahat dunia maya, atau istilah kerennya cyber criminal. Mereka telah membangun situs Facebook versi Indonesia yang bertujuan untuk penipuan (phising). Pengguna yang terjebak akan secara sengaja menyerahkan informasi username dan password akun Facebook mereka ke kriminal tersebut.

“Jika dilihat sekilas, tampilan situs Facebook gadungan ini memang mirip aslinya, termasuk ketersediaan sarana registrasi bagi pengguna baru. Begitu pun dengan icon, gambar, judul halaman dan elemen lain yang lazim dijumpai pada laman utama Facebook ketika baru dibuka,” kata Brama Setyadi, seorang praktisi teknologi pada VIVAnews, 26 Oktober 2009.

“Satu-satunya yang membuat laman ini berbeda adalah alamatnya, yakni http://facabook.co.tv/indonesia,” ucap Brama yang awalnya mendapatkan pesan phising tersebut di inboks akun Facebook-nya.

Pada laman Facebook asli, Brama menyebutkan, data login yang dimasukkan pengguna akan dikirim menggunakan metode POST ke file login.php di alamat ‘https://login.facebook.com’.

“Sekadar info, HTTPS (Hypertext Transfer Protocol Secure) adalah protokol yang digunakan untuk mengamankan jalur pengiriman data dengan memanfaatkan enkripsi,” kata Brama. “Sementara Facebook palsu mengirimkan data login ke file src-login.php di alamat http://facabook.co.tv,” ucapnya.

“Dari sini sebenarnya dapat diketahui bahwa sebenarnya si pembuat laman sama sekali tidak mengirimkan data untuk keperluan otentikasi, melainkan hanya merekam data login ke dalam database miliknya,” ucap Brama.

Menurut laporan beberapa korban, informasi tentang Facebook palsu ini didapat lewat fasilitas message Facebook, meskipun si phiser tidak masuk ke dalam daftar teman. Isi beritanya kurang lebih mengharuskan si calon korban untuk melakukan login ke facebook dengan segera karena sistem administrasi Facebook sedang dalam tahap seleksi pengguna aktif. Sembari melampirkan alamat palsu di atas, phiser juga menyuruh meneruskan pesan yang dibuatnya kepada 15 pengguna Facebook lain.

Lalu apa yang terjadi jika pengguna memasukkan informasi kredensial ke laman ini? Setelah merekam data login si pembuat akan langsung mengalihkan laman ke alamat login Facebook yang asli. Seakan-akan pengguna telah salah atau belum memasukkan informasi login.

“Anda yang telah terlanjur memasukkan informasi login di situs tersebut, ada baiknya segera mengubah password Facebook yang Anda punya,” ucap Brama.

from : http://id.news.yahoo.com/viva/20091026/ttc-awas-facebook-palsu-hadir-di-indones-078ed6a.html

Jumat, 16 Oktober 2009

Bingung Mw Nulis ????

Ternyata nulis blog itu gk se gampang yg di bayangkan..... gk tw Males or Gk ada ide... ya bgtulah... saat ada ide... kata2nya cman dikit... jd males deh nulisnya he3.... tp biasanya orang pada nulis ttg kesehariannya... bsa d bilanag kyak E-diary gtu deh... hmm... nulis ini aja kata2nya apa yg kepikiran doank... banyak titik2nya pula... wah2 jadi tamabh bingung nih...hehehehehe maap ya....(sma sp coba minta maap nya ????)

Kamis, 17 September 2009

SELAMAT IDUL FITRI 1430 H



TAQOBBALALLOHU MINNA WA MINKUM

Tiada kata seindah maaf....
Bila ada kata & perbuatan yang khilaf...
Kiranya maaf yang diharapkan....

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430

Mohon Ma'af Lahir dan Batin

Jumat, 11 September 2009

"Semut pun Marah"

Siang itu ketika sedang mendengar khotbah jumat, saya mlihat beberapa ekor semut sedang mengangkat seekor serangga yang telah mati, dengan susah payah mereka mengangkatnya tiba-tiba seekor anak cicak yg "mungkin" iseng menghampiri segrombol semut tersebut dan mencoba mengambil serangga mati yang sedang di angkat. Akibat perbuatan anak cicak itu serangga yang mereka angkat terjatuh. Setelah melakukan hal tersebut anak cicak buru-buru kabur menempel di tiang mimbar. Tiba-tiba saja seekor semut yang marah mengejar anak cicak tersebut, berhubung badan semut kecil, dengan sekali senggolan dari cicak saja semut tersebut jatuh dari tiang mimbar dan tidak mempedulikan anak cicak itu lagi.

Kamis, 10 September 2009

SeLamat Datang......



Jumat, 11 September 2009, Hari ini lah saya memulai aktifitas blogginng...(akhirnya hehehe)
insya alloh akan berisi hal2 yang menarik bermanfaat dan juga inspiratif, salam kenal, by :danny.